
Ketahanan Pangan Menjadi Tantangan di Tengah Tekanan Ekonomi
Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah mengalami tekanan cukup berat hingga menyentuh level terlemah dalam sejarah. Kondisi ini mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor. Akibatnya, daya beli masyarakat perlahan melemah, terutama pada kelompok menengah ke bawah yang paling rentan menghadapi kesulitan pangan.
Di tengah situasi tersebut, isu ketahanan pangan semakin penting untuk mendapat perhatian bersama. Masyarakat membutuhkan solusi yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mampu menjaga ketersediaan pangan secara berkelanjutan.
Iduladha dan Nilai Ekonomi Islam untuk Ketahanan Pangan
Islam sejak lebih dari 14 abad lalu telah mengajarkan sistem ekonomi yang berlandaskan keadilan, pemerataan, dan kepedulian sosial. Dalam pandangan Islam, harta tidak boleh berputar hanya pada kelompok tertentu. Sebaliknya, harta harus memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Nilai tersebut tercermin dalam momentum Iduladha. Ibadah kurban tidak hanya menghadirkan dimensi spiritual, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi rakyat. Mulai dari peternak, pedagang pakan, pengangkut hewan, hingga tenaga distribusi merasakan dampak positif dari perputaran ekonomi kurban.
Bahkan, berbagai kajian menunjukkan bahwa Iduladha menjadi salah satu penggerak ekonomi rakyat terbesar setiap tahun. Aktivitas kurban menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.
RendangMu, Inovasi Kurban untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Semangat tersebut kemudian diwujudkan secara lebih modern melalui Program RendangMu yang diinisiasi LAZISMU. Program ini mengolah daging kurban menjadi rendang kemasan yang tahan lama sehingga manfaat kurban dapat dirasakan lebih luas dan dalam waktu yang lebih panjang.
Kehadiran RendangMu menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam mampu menjawab tantangan zaman melalui inovasi pengelolaan pangan. Daging kurban tidak hanya dibagikan pada saat hari raya, tetapi juga dapat disimpan dan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan pada berbagai kondisi, termasuk saat terjadi bencana maupun krisis pangan.
Selain itu, pengolahan daging kurban menjadi produk siap santap membantu meningkatkan efisiensi distribusi. Program ini juga memperkuat upaya menjaga ketahanan pangan karena ketersediaan pangan bergizi dapat dijangkau oleh lebih banyak penerima manfaat.(media lazismu sl3)

