Rakernas Lazismu tahun 2026 diselenggarakan di Semarang Jawa Tengah 2-8 November 2026 dengan segala rangkaian kegiatanya. Gelaran Rakernas tahun ini dinamakan Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) dan menjadi rakernas terakhir sebelum muktamar Muhammadiyah tahun 2027.
Lazismu baru saja merayakan milad ke-24, artinya telah melewati perjalanan panjang dalam mengembangkan gerakan zakat, infak, dan sedekah (ZISKA) di Indonesia. Momentum MZS menjadi kesempatan penting untuk melakukan refleksi sekaligus merumuskan langkah strategis agar Lazismu semakin adaptif, profesional, dan berdampak luas bagi masyarakat.
Ada sejumlah harapan sekaligus tantangan yang perlu menjadi perhatian Lazismu, terutama dalam menghadapi perubahan zaman dan perkembangan teknologi lima tahun ke depan.
Pertama, mengoptimalkan potensi umat Islam yang sangat besar. Indonesia memiliki populasi muslim terbesar di dunia. Potensi ini harus menjadi kekuatan utama dalam membangun gerakan filantropi Islam. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kesadaran dan gerakan nyata dalam berzakat, berinfak, dan bersedekah melalui Lazismu.
Kedua, meningkatkan literasi zakat dan filantropi Islam. Lazismu tidak cukup hanya menjadi lembaga penghimpun dan penyalur dana ZISKA, tetapi juga harus menjadi pusat edukasi masyarakat. Literasi zakat perlu diperluas, terutama kepada generasi muda, komunitas, dunia pendidikan, dan kalangan profesional agar zakat dipahami sebagai instrumen pemberdayaan umat dan pengentasan kemiskinan.
Ketiga, mempercepat transformasi digital. Lima tahun ke depan, digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Lazismu harus mampu mengembangkan ekosistem digital yang terintegrasi, mulai dari penghimpunan, pelayanan muzaki, pengelolaan data mustahik, transparansi pelaporan, hingga pengukuran dampak program. Kepercayaan publik akan semakin ditentukan oleh kemudahan layanan, kecepatan, keterbukaan, dan akuntabilitas.
Keempat, menjadikan Generasi Z (Gen Z) sebagai kekuatan masa depan. Gen Z bukan sekadar objek dakwah atau penerima manfaat program, melainkan calon muzaki, relawan, inovator, bahkan pemimpin filantropi masa depan. Lazismu perlu menghadirkan program yang relevan dengan karakter mereka, seperti gerakan filantropi digital, social entrepreneurship, volunteer movement, kampanye sosial kreatif, dan program pemberdayaan berbasis komunitas anak muda.
Kelima, meningkatkan kualitas dan profesionalisme amil. Di tengah tantangan yang semakin kompleks, amil harus memiliki kompetensi yang kuat, integritas, kemampuan manajerial, penguasaan teknologi, serta orientasi pada hasil. Profesionalisme amil menjadi kunci agar Lazismu mampu tumbuh sebagai lembaga filantropi modern yang dipercaya masyarakat.
Keenam, menghadirkan program yang inovatif dan berdampak. Program Lazismu ke depan harus semakin worth it, relevan, dan menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya generasi muda. Tidak hanya program karitatif, tetapi juga program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pengembangan kewirausahaan sosial yang terukur dampaknya.
Pada akhirnya, Muhammdiyah Zakat Summit Lazismu di usia ke-24 ini diharapkan tidak sekadar menghasilkan agenda dan target tahunan, tetapi juga melahirkan lompatan besar dalam tata kelola, inovasi, dan kebermanfaatan. Lazismu harus berani berubah, berani berinovasi, dan mampu membaca keb utuhan generasi masa depan.
Lima tahun ke depan harus menjadi momentum bagi Lazismu untuk naik kelas: dari lembaga pengelola ZISKA yang profesional menjadi gerakan filantropi Islam modern, digital, terpercaya, dan berdampak luas. Zakat bukan sekadar menghimpun dana, tetapi membangun peradaban. Lazismu harus hadir menjawab tantangan zaman dan menjadi kekuatan nyata untuk memajukan kesejahteraan umat.
Subscribe
0 Comments
Oldest

